Tuesday, 17 July 2018

SEGI BANYAK

SEGI BANYAK


Segi banyak adalah kurva tertutup yang dibatasi oleh garis.

Yang termasuk segi banyak adalah seperti bangun datar di bawah ini:

Segi banyak

Yang bukan termasuk Segi Banyak adalah:
Bukan Segi Banyak



SEGI BANYAK DALAM KEHIDUPAN SEHARI-HARI


1. Logo Kepolisian berbentuk segi lima beraturan
2. Sarang lebah yang berbentuk segi enam beraturan
3. Tiang menara mesjid alasnya berbentuk segi delapan beraturan
4. Bingkai cermin ada yang berbentuk segi delapan beraturan
5. Logo Palang Merah berbentuk tambah
6. Shuriken (senjata Ninja Jepang yg berbentuk bintang)

MANFAAT SEGI BANYAK DALAM KEHIDUPAN


Manfaat segi banyak adalah untuk melengkapi bentuk-bentuk lainnya agar menjadi bangun yang sesuai dengan keinginan. yang terjadi apabila segi banyak tidak ada dalam kehidupan sehari-hari adalah kita akan kesulitan dalam memperoleh bangun kompleks yang kita inginkan. contoh: ketika akan membuat sebuah atap berbentuk llingkaran, begitu pula dengan dinding rumahnya.


Kelas : VI (6 SD)
Materi : Segi Banyak
Kata Kunci : segi banyak, bukan, bentuk, manfaat

Pembahasan :
Segi banyak merupakan kurva tertutup yang seluruh sisinya dibatasi oleh garis. 

Segi banyak dibagi menjadi dua, yaitu :
1. segi banyak beraturan.
2. segi banyak tidak beraturan.

Segi banyak beraturan memiliki ciri, yaitu : sisi-sisi sama, sudut-sudut sama, dan bentuknya harus cembung.

Contoh : segi tiga, segi empat, pentagon, heksagon, heptagon, oktagon, nonagon, dekagon, dan lain-lain. 

Segi banyak tidak beraturan memiliki ciri, yaitu : sisi-sisi tidak sama, sudut-sudut tidak sama, dan bentuknya bisa cembung dan cekung.
Contoh : lampiran 1.

Bukan segi banyak merupakan kurva yang bisa tertutup atau tidak dan tidak selalu sisinya dibatasi oleh garis.

Ciri bukan segi banyak, yaitu : 
1. kurva tidak selalu tertutup,
2. bentuk bisa cembung atau cekung,
2. tidak selalu memiliki sudut,
3. tidak selalu memiliki sisi berupa garis lurus.
Contoh : lampiran 2.

Mari kita lihat soal tersebut.
Penggunaan segi banyak dalam kehidupan sehari-hari antara lain : pintu, jendela, ventilasi, buku, kotak, lemari, meja, kursi, dan lain-lain.

Manfaat segi banyak dalam kehidupan sehari-hari adalah segala alat bantu makhluk hidup terutama manusia.

Jika segi banyak tidak ada dalam kehidupan sehari-hari, maka makhluk hidup terutama manusia akan mengalami kesulitan. Karena semua bentuk menjadi bukan segi banyak.

Semangat!













Thursday, 17 May 2018

Sang Pembersih Kehidupan

#SangPembersihKehidupan#

      Hari telah menunjukkan pukul 06.00 pagi ketika pak Rahmat bersama bu Kanti keluar dari rumah mereka untuk mengais rezeki. Biasanya Pak Rahmat dan Bu Kanti sudah mulai bangun pagi sebelum pukul 04.15 pagi sebelum sholat subuh. Namun kali ini agak berbeda, karena pak Rahmat dan Bu Kanti mempersiapkan diri untuk ibadah sahur di bulan Ramadhan. Pak Rahmat dan istrinya adalah sepasang suami istri yang bekerja sebagai pemungut sampah dan pemungut barang-barang bekas untuk daerah sekitar Panam, tempat domisili #PAUD #AZAHRA# yaitu  di jalan Manunggal Kabupaten Kampar- provinsi Riau.
      Pak Rahmat dan istrinya telah bekerja sebagai seorang pemungut sampah dan pemulung barang-barang bekas sejak 20 tahun lalu. Pekerjaan sebagai pemungut sampah dan pemulung telah menjadi kegiatan sehari-hari bagi pak Rahmat dan bu Kanti. Sehingga dalam sehari, jika mereka berdua tidak keluar mengais rezekinya, Pak Rahmat dan bu Kanti akan merasa canggung. Karena pekerjaan tersebut sudah terlanjur menjadi darah daging mereka. Pak Rahmat dan Bu Kanti memiliki 2 orang anak. Kedua anak mereka sudah besar, anak pertama sudah bekerja sebagai guru PNS di daerah Kampar, sedangkan anak ke dua Pak Rahmat sudah bekerja sebagai pegawai di kantor PU Malang Jawa Timur.  Sebenarnya, anak-anak pak Rahmat sudah berulang kali mengajak kedua orang tuanya berhijrah ke pulau Jawa, namun Pak Rahmat dan Bu Kanti selalu menolak, karena masih banyak kewajibannya kepada warga dan lingkungan yang harus dipenuhinya. Demikianlah alasan mereka kepada anak-anak.
      Mengapa pak Rahmat dan istrinya masih suka melakukan pekerjaan sebagai pemungut sampah dan pemulung?, yang sebagian besar masyarakat kita memandang sebelah mata. Kedua sejoli ini punya prinsip hidup dan keyakinan sendiri, bahwa setiap pekerjaan itu adalah mulia, asalkan prosesnya dilakukan dengan jujur dan bertanggung jawab serta memberi manfaat bagi orang lain maupun lingkungan sekitar.
      Seperti biasa, tugas pak Rahmat setiap sore harinya adalah mengumpulkan sampah-sampah masyarakat yang ada di area lingkungan rumahnya. Namun hari ini, Pak Rahmat dan bu Kanti berhalangan melakukan tugas rutinnya itu. Karena mereka akan menghadiri pernikahan putra kedua mereka di Pulau Jawa. Tepatnya di kota Malang.
      Pak Rahmat dan bu Kantipun memohon izin kepada warga, bahwa mereka untuk sementara tidak bisa melaksanakan tugasnya membersihkan sampah-sampah rumah  tangga khususnya yang berada di area lingkungan rumah mereka. Pak Rahmatpun menemui ketua RT nya, dan berpamitan.
      Selang hanya beberapa hari saja, warga sudah merasa sangat kehilangan sosok  dua sejoli ini yang selalu membersihkan kampung mereka. Biasanya, setiap hasil pembuangan sampah, lingkungan sekitar rumah mereka sudah bersih dan rapi diambil dan dikumpulkan oleh pak Rahmat dan istrinya. Namun, kali ini tidak ada seorangpun yang peduli. Sampah warga sudah menumpuk dan berserakan di mana-mana. Warga kebingungan, dengan siapa lagi mereka mencari orang yang mau memungut dan membersihkan sampah limbah rumah tangga. Apalagi mayoritas warga adalah bekerja. Sehingga kesibukan bekerja di luar rumah telah banyak menyita waktu mereka.
       Demikianlah fenomena yang sering terjadi, saat seseorang siapapun dia apakah teman, tetangga, saudara, atau tukang suruh sekalipun yang selalu berada dalam rutinitas kehidupan, kita sangat jarang memperdulikan dan memperhatikan betapa   pentingnya kehadiran mereka dalam kehidupan kita, namun ketika mereka tidak ada, saat itulah kita akan merasa kehilangan.
        Kepergian sejenak  Pak Rahmat dan bu Kanti sangat terasa menyentak warga. Karena ternyata, pekerjaan yang selama ini ditekuni oleh pak Rahmat maupun bu Kanti terhadap warga kampung perumahan, walaupun hanya sebagai petugas kebersihan, namun dampak yang ditimbulkannya sangat berpengaruh dalam kehidupan warga sekitar. Wargapun terpaksa harus menyisihkan waktunya yang hanya sebentar berada di rumah untuk membersihkan sendiri sampah-sampah limbah buangan rumah tangganya menuju tempat yang telah disiapkan di area sekitar kampung. Tidak mudah ternyata, harus memboyong sekian banyak plastik sampah yang kemudian harus dibuang ke tong pembuangan besar warga tanpa dipilah-pilah terlebih dahulu, karena untuk menghemat waktu dan tenaga.
        Demikianlah rutinitas yang selalu dikerjakan oleh sepasang suami istri pemulung sebuah lokasi perumahan yang lumayan elit tersebut.  Warga menyadari, jika tidak ada Pak Rahmat maupun Bu Kanti walaupun beberapa hari saja, namun dampaknya terhadap keindahan, kenyamanan dan kebersihan kampung menjadi tidak terjaga dan kotor. Beruntung ada inisiatif dari bapak ketua RT, jika Pak Rahmat dan Bu Kanti kembali dari pulau Jawa, warga dihimbau untuk menghemat sampah dan merapikan serta bersedia memilah sampah-sampah rumah tangganya sendiri sebelum dikumpulkan oleh Pak Rahmat dan bu Kanti. Hal ini dilakukan sebagai rasa kepedulian terhadap lingkungan dan   meringankan beban kerja Pak Rahmat dan Bu Kanti, serta memberi perlindungan terhadap kebersihan dan kenyamanan lingkungan sekitar mereka.
 Ternyata, pekerjaan mulia yang telah dilakukan oleh pak Rahmat dan Bu Kanti memberi kesadaran kepada warga untuk senantiasa menghargai lingkungan sekitar dan kesadaran untuk mau menghargai status pekerjaan siapapun dalam kehidupan mereka sehari-hari. Bahwa apa yang dipandang sebagian besar masyarakat kita, tentang para pemungut sampah maupun pemulung adalah sebuah profesi yang kecil, rendah, dan sepele namun ternyata mampu mempengaruhi stabilitas kenyamanan dalam kehidupan kita. Semoga menjadi amal jahiriah bagi warga terutama untuk dua sejoli sang pembersih kehidupan.

Penulis     : Delta Nia Marzuki
Illustrator: Azka

Sunday, 13 May 2018

By. DELTA NIA

SOSOK YANG DIDAMBA

Sebut saja namanya Ani. Ani adalah murid yang paling pendiam di kelasku. Ani tidak begitu pintar dibandingkan dengan teman-temannya yang berada di dalam satu kelas. Setiap hari jika waktu belajar tiba, Ani selalu duduk di kursi paling belakang. Dia lebih nyaman berada di sana agar bisa mengamati guru dan teman-temannya. Namun Ani tidak berani mengungkapkan mengapa ia suka mengamati orang-orang dan lingkungan sekitarnya dengan seksama.
Hari ini adalah hari pertama Ani berada di sekolah PAUD AZAHRA. Seperti biasa, Ani tidak banyak -berbicara dibandingkan dengan teman-temannya yang sudah dengan suara riuh saling bercerita tentang suasana liburan mereka bersama keluarga. Ani lebih senang merapikan laci dan loker belajarnya. Ia menatanya dengan begitu telaten, semua barang-barangnya disusun dengan rapi di dalam locker yang telah ditentukan oleh ustadzah di kelas.
Kemudian, terlihat Ani mulai mencari-cari di bawah mejanya, apakah ada sampah atau barangnya tercecer di bawah meja. Dengan sigap ia segera mengambil secarik kertas kecil yang sudah kumuh tergeletak di lantai, menuju tempat sampah dan membuangnya di sana. Berbeda dengan teman-temannya yang lain. Di saat teman-temannya asyik bersenda gurau di kelas tanpa mau memperdulikan barang maupun kebersihan di kelas, Ani justru sibuk dengan kesendiriannya. Kesibukan yang begitu mulia bagiku, karena dengan spontan ia melakukan hal-hal positif dengan merapikan buku dan memungut sampah tanpa diinstruksikan lagi di kelas.
Aku juga sering memergoki Ani sedang merapikan buku-buku dan alat-alat mengajarku di kelas. Kadangkala di waktu jadwal piketnya tiba, ialah muridku satu-satunya yang paling senang menyapu. Hasil pekerjaannya bersih dan rapi. Aku salut dengan karakternya. Karena belum pernah aku menemui seorang anak kecil baru berusia 6 tahun sudah pandai bekerja dan peduli dengan sekitarnya. Aku sudah dapat membayangkan, bahwa insyaallah anak ini kelak di masa dewasa  tentulah menjadi orang yang sukses.
Kebetulan saat ini, akulah sebagai guru kelasnya. Sejak pertama bertemu dengan murid-muridku yang baru ini, aku sudah menemukan sesuatu yang indah dalam karakter anak didikku itu. Siapakah yang telah berhasil melatihnya, sehingga ia bisa dengan mandirinya memperdulikan barang-barangnya dan mengambil sampah setiap kali ada sampah di dekatnya.
Suatu ketika, kudekati Ani dengan pelan. Kupanggil namanya agar ia mau menemui secara pribadi di meja guruku. Anipun dengan terburu-buru mulai mendekatiku. “Ada apa Zah..?”, tanyannya ingin tahu. Mungkin dia heran, mengapa aku memanggilnya secara pribadi. “Ani, kamu di rumah anak ke berapa?” tanyaku. “Saya anak nomor satu Zah. Saya memiliki adik yang masih kecil-kecil. Adik saya ada dua orang Zah.” Jawabnya dengan santun dan lembut. “Ayahmu bekerja di mana? Dan Ibumu apakah juga bekerja?” tanyaku selanjutnya. Ani terdiam sejenak. Sepertinya dia agak berat mengutarakan tentang kedua orang tuanya. Sambil menunduk, dan dengan suaranya yang lirih Anipun menjawab dengan ragu. “Ayah saya kerjanya memilah-milah barang-barang yang sudah tidak dipakai orang lagi Zah. Namun, ayah selalu mengatakan bahwa pekerjaan ayah adalah pekerjaan yang paling mulia sedunia. Karena ayah sudah menyelamatkan lingkungan.” Aku terkejut mendengar ceritanya. Bagaimana mungkin seorang anak yang maaf aku kira berprofesi sebagao pemulung itu adalah Ani muridku yang sekarang sedang berada di depanku. Bagaimana mungkin, seorang pemulung, yang mungkin untuk makan saja mereka harus memeras keringat mencari rezekinya untuk sesuap nasi, namun mampu menyekolahkan anaknya di sekolah swasta Islam, yang SPPnya saja membuat kita tertegun karena biayanya yang tidak murah.
Untuk memastikan dugaaanku, akupun menanyainya lagi. “Apakah ibumu juga bekerja. Siapa yang membiayaimu sekolah di sini nak..?”. Ani menjawab,”pekerjaan ibu juga sama dengan ayah Zah. Ibu dan ayah sudah menabung sejak saya masih dalam kandungan. Karena ibu dan ayah ingin semua anak-anaknya sekolah di sekolah yang bagus dan dapat memperoleh ilmu agama yang tinggi. Ayah dan ibu hanya ingin agar saya menjadi anak yang sholeh. Karena ayah sering bilang, untuk apa anak ayah jadi sarjana, professor , jadi dokter, tapi nanti di akhir hayatnya, imam masjidlah yang mengurus, mendoakan dan menyolatinya. Ayah juga ingin anak ayah selalu berbuat baik terhadap lingkungan dan alam. Saya memang perempuan Zah. Tapi adik saya dua-duanya laki-laki. Kedua adik saya juga seperti saya zah, tapi mereka pintar mengaji dan menghafal Al Qur’an. Adik saya yang nomor dua sekarang sudah hampir hafal 3 juz, padahal umurnya baru 6 tahun. Dan adik saya yang ketiga sudah bisa menghafal 1 juz. Ibu yang selalu rajin membimbing mereka di rumah setelah pulang bekerja”.
“Saya rajin membersihkan kelas, locker dan laci meja karena saya sering melihat ibu dan ayah rajin membersihkan rumah kami, walaupun rumah kami kecil dan tidak bagus”. “Ayah dan ibu selalu bilang kalau benda-benda yang tidak terpakai kita kumpulkan dengan baik, maka bisa jadi nilai amal untuk buku amal kita di syurga. Ayah dan ibu juga rajin menanam pohon dan tanaman. Walaupun rumah saya sederhana dan tidak begitu bagus, tetapi taman di rumah saya rindang, hijau, asri, dan rapi. Jika ada waktu, cobalah berkunjung ke rumah saya Zah. Nanti saya temani ustadzah berkeliling melihat tanaman-tanaman hasil sentuhan tangan ayah dan ibu. Kadang-kadang saya juga rajin membantu ayah dan ibu membersihkan dan menyiram tanaman. Kami sekeluarga suka sekali bekerja sama.”. Ketika waktu sholat tiba, kedua adik saya ikut sholat berjamaah di masjid, saya dan ibu kadang-kadang ikut juga. Namun, karena pekerjaan rumah masih ada yang harus dikerjakan, sekali waktu kami berdua saya dan ibu sholat berjamaah di rumah saja. Katanya panjang lebar. Aku asyik mendengar penjelasannya. Aku tidak menyangka, masih ada anak seusia dia yang mampu menceritakan secara detail tentang kehidupan keluarganya yang menyenangkan. Di saat orang-orang disekeliling kita sibuk dengan urusannya, tidak ada yang peduli, namun Ani adalah keluarga yang istimewa di mataku. Kedua orang tuanya memang hanya orang biasa, terlalu sederhana malah. Mereka bukan pegawai, mereka bukan guru. Mereka bukan seorang pejabat Negara. Namun, bagiku apa yang telah mereka perbuat walaupun masih dalam lingkungan keluarganya sudah merupakan perbuatan mulia yang dirihoi Allah. Dan sangat jarang kita temui di keluarga-keluarga Indonesia pada umumnya. Inilah sosok yang didamba bagi penyelamat bangsa Indonesia yang tercinta ini. Yaitu sosok yang agamis, peduli dan gemar melakukan kebaikan untuk lingkungannya, walaupun masih dalam lingkup yang kecil. Seandainya saja… yah seandainya…setiap individu dalam 1 juta rakyat Indonesia yang tinggal di Negara ini berbuat dan berpikir sama seperti apa yang dilakukan keluarga Ani, barangkali tidak ada  kebakaran hutan. Tidak ada sampah-sampah berserakan, karena setiap orang memiliki kesadaran mencintai lingkungan, kesadaran mau mengambil, memungut dan memanfaatkan sampah dimanapun ia berada, dan negeri ini ,menjadi negeri yang bersih dan indah bak permadani syurga. Udaranya sejuk dengan bentangan alamnya yang hijau dan subur, dan Negara yang indah makmur bukan hanya sekedar harapan dan cita-cita. Kabut asap yang melanda pulau Sumatra di Indonesia menggambarkan bahwa tidak banyak dari bangsa kita yang peduli. Sehingga terjadi kebakaran hutan di mana-mana. Sungguh memilukan.

Thursday, 17 November 2016

KERAJINAN TANGAN SISWA KELAS 5D

KERAJINAN TANGAN SISWA
HARGA Rp. 15.000/pcs. Bisa digunakan untuk alat peraga pembelajaran. 
Hubungi: 081275534521

Tuesday, 25 October 2016

POTRET PENDIDIKAN DI RIAU

Kelas Sagusablog merupakan kelas pembelajaran online bagi para guru yang diselenggarakan oleh Ikatan Guru Indonesia Ikatan Guru Indonesia yang sedang dipelajari oleh ibu Delta Nia guru SDIT Al Ittihad Rumbai - Pekanbaru.Delta Nia.

KUIS ENGLISH

PLEASE, ANSWER THESE TEST!

Monday, 24 October 2016

DELTA BLOG SAGUSABLOG

Assalamualaikum wr.wb

Blog ini adalah blog yang digunakan sebagai sarana pembelajaran bagi penulis dalam rangka mendesign sebuah blog yang lebih menarik.
Blog Sagusablog merupakan singkatan dari Satu Guru Satu Blog yang dibimbing dan dilatih oleh para Trainer IGI (Ikatan Guru Indonesia) yaitu; Bapak Mr. Mung & Bapak Dahli Ahmad, yang memiliki kecerdasan, keahlian dan ketrampilan yang mumpumi dalam membantu para guru agar bisa membuat, merancang, dan mendesign blognya sehingga dapat dimanfaatkan sebagai sarana menulis bagi para guru.
Jazakumullahu khairon kepada para pembimbing yang telah memberikan inspirasi dan ide sehingga pemilik blog ini bisa belajar lebih jauh bagaimana caranya mendesign blog yang menarik, sehingga dapat dinikmati oleh seluruh pembaca yang ada di dunia maya atau internet ini.

Wassalam
Salam Sagusablog

Delta Nia
Guru SDIT Al Ittihad Rumbai
Pengurus Wilayah Prop. Riau tahun 2016