Thursday, 17 May 2018

Sang Pembersih Kehidupan

#SangPembersihKehidupan#

      Hari telah menunjukkan pukul 06.00 pagi ketika pak Rahmat bersama bu Kanti keluar dari rumah mereka untuk mengais rezeki. Biasanya Pak Rahmat dan Bu Kanti sudah mulai bangun pagi sebelum pukul 04.15 pagi sebelum sholat subuh. Namun kali ini agak berbeda, karena pak Rahmat dan Bu Kanti mempersiapkan diri untuk ibadah sahur di bulan Ramadhan. Pak Rahmat dan istrinya adalah sepasang suami istri yang bekerja sebagai pemungut sampah dan pemungut barang-barang bekas untuk daerah sekitar Panam, tempat domisili #PAUD #AZAHRA# yaitu  di jalan Manunggal Kabupaten Kampar- provinsi Riau.
      Pak Rahmat dan istrinya telah bekerja sebagai seorang pemungut sampah dan pemulung barang-barang bekas sejak 20 tahun lalu. Pekerjaan sebagai pemungut sampah dan pemulung telah menjadi kegiatan sehari-hari bagi pak Rahmat dan bu Kanti. Sehingga dalam sehari, jika mereka berdua tidak keluar mengais rezekinya, Pak Rahmat dan bu Kanti akan merasa canggung. Karena pekerjaan tersebut sudah terlanjur menjadi darah daging mereka. Pak Rahmat dan Bu Kanti memiliki 2 orang anak. Kedua anak mereka sudah besar, anak pertama sudah bekerja sebagai guru PNS di daerah Kampar, sedangkan anak ke dua Pak Rahmat sudah bekerja sebagai pegawai di kantor PU Malang Jawa Timur.  Sebenarnya, anak-anak pak Rahmat sudah berulang kali mengajak kedua orang tuanya berhijrah ke pulau Jawa, namun Pak Rahmat dan Bu Kanti selalu menolak, karena masih banyak kewajibannya kepada warga dan lingkungan yang harus dipenuhinya. Demikianlah alasan mereka kepada anak-anak.
      Mengapa pak Rahmat dan istrinya masih suka melakukan pekerjaan sebagai pemungut sampah dan pemulung?, yang sebagian besar masyarakat kita memandang sebelah mata. Kedua sejoli ini punya prinsip hidup dan keyakinan sendiri, bahwa setiap pekerjaan itu adalah mulia, asalkan prosesnya dilakukan dengan jujur dan bertanggung jawab serta memberi manfaat bagi orang lain maupun lingkungan sekitar.
      Seperti biasa, tugas pak Rahmat setiap sore harinya adalah mengumpulkan sampah-sampah masyarakat yang ada di area lingkungan rumahnya. Namun hari ini, Pak Rahmat dan bu Kanti berhalangan melakukan tugas rutinnya itu. Karena mereka akan menghadiri pernikahan putra kedua mereka di Pulau Jawa. Tepatnya di kota Malang.
      Pak Rahmat dan bu Kantipun memohon izin kepada warga, bahwa mereka untuk sementara tidak bisa melaksanakan tugasnya membersihkan sampah-sampah rumah  tangga khususnya yang berada di area lingkungan rumah mereka. Pak Rahmatpun menemui ketua RT nya, dan berpamitan.
      Selang hanya beberapa hari saja, warga sudah merasa sangat kehilangan sosok  dua sejoli ini yang selalu membersihkan kampung mereka. Biasanya, setiap hasil pembuangan sampah, lingkungan sekitar rumah mereka sudah bersih dan rapi diambil dan dikumpulkan oleh pak Rahmat dan istrinya. Namun, kali ini tidak ada seorangpun yang peduli. Sampah warga sudah menumpuk dan berserakan di mana-mana. Warga kebingungan, dengan siapa lagi mereka mencari orang yang mau memungut dan membersihkan sampah limbah rumah tangga. Apalagi mayoritas warga adalah bekerja. Sehingga kesibukan bekerja di luar rumah telah banyak menyita waktu mereka.
       Demikianlah fenomena yang sering terjadi, saat seseorang siapapun dia apakah teman, tetangga, saudara, atau tukang suruh sekalipun yang selalu berada dalam rutinitas kehidupan, kita sangat jarang memperdulikan dan memperhatikan betapa   pentingnya kehadiran mereka dalam kehidupan kita, namun ketika mereka tidak ada, saat itulah kita akan merasa kehilangan.
        Kepergian sejenak  Pak Rahmat dan bu Kanti sangat terasa menyentak warga. Karena ternyata, pekerjaan yang selama ini ditekuni oleh pak Rahmat maupun bu Kanti terhadap warga kampung perumahan, walaupun hanya sebagai petugas kebersihan, namun dampak yang ditimbulkannya sangat berpengaruh dalam kehidupan warga sekitar. Wargapun terpaksa harus menyisihkan waktunya yang hanya sebentar berada di rumah untuk membersihkan sendiri sampah-sampah limbah buangan rumah tangganya menuju tempat yang telah disiapkan di area sekitar kampung. Tidak mudah ternyata, harus memboyong sekian banyak plastik sampah yang kemudian harus dibuang ke tong pembuangan besar warga tanpa dipilah-pilah terlebih dahulu, karena untuk menghemat waktu dan tenaga.
        Demikianlah rutinitas yang selalu dikerjakan oleh sepasang suami istri pemulung sebuah lokasi perumahan yang lumayan elit tersebut.  Warga menyadari, jika tidak ada Pak Rahmat maupun Bu Kanti walaupun beberapa hari saja, namun dampaknya terhadap keindahan, kenyamanan dan kebersihan kampung menjadi tidak terjaga dan kotor. Beruntung ada inisiatif dari bapak ketua RT, jika Pak Rahmat dan Bu Kanti kembali dari pulau Jawa, warga dihimbau untuk menghemat sampah dan merapikan serta bersedia memilah sampah-sampah rumah tangganya sendiri sebelum dikumpulkan oleh Pak Rahmat dan bu Kanti. Hal ini dilakukan sebagai rasa kepedulian terhadap lingkungan dan   meringankan beban kerja Pak Rahmat dan Bu Kanti, serta memberi perlindungan terhadap kebersihan dan kenyamanan lingkungan sekitar mereka.
 Ternyata, pekerjaan mulia yang telah dilakukan oleh pak Rahmat dan Bu Kanti memberi kesadaran kepada warga untuk senantiasa menghargai lingkungan sekitar dan kesadaran untuk mau menghargai status pekerjaan siapapun dalam kehidupan mereka sehari-hari. Bahwa apa yang dipandang sebagian besar masyarakat kita, tentang para pemungut sampah maupun pemulung adalah sebuah profesi yang kecil, rendah, dan sepele namun ternyata mampu mempengaruhi stabilitas kenyamanan dalam kehidupan kita. Semoga menjadi amal jahiriah bagi warga terutama untuk dua sejoli sang pembersih kehidupan.

Penulis     : Delta Nia Marzuki
Illustrator: Azka

No comments:

Post a Comment